Minggu, 17 April 2011

LAgi....gratis..

ClubBali, Klub Liburan

Hari sabtu sore kemarin saya diminta istri untuk mengantarnya mengambil voucher menginap gratis di hotel berbintang di Bali. Sebelumnya saya sempat ada pikiran-pikiran negatif. Masak iya sih ada yang gratis sekarang ini? Pasti hanya alasan untuk menawarkan sesuatu ataupun untuk menipu. Istri saya bilang hanya yang diundang yang bisa mengambil voucher tersebut.

Setelah sampai di tempat yang dituju, istri saya ditanya tentang siapa pengundangnya dan langsung disodori questionnaire untuk diisi. Salah satunya adalah kesediaan untuk ikut presentasi dengan waktu minimal 90 menit. Terkaget-kaget saya melihat istri saya ternyata menyetujui hal itu - belakangan saya ketahui bahwa istri saya melewatkan kata minimal tersebut. Beberapa menit kemudian ada seseorang yang memperkenalkan diri dan mengajak kami berdua masuk ke dalam sebuah ruangan yang luas, penuh dengan orang-orang yang sepertinya sedang diberi penjelasan oleh petugas-petugasnya masing-masing.

Penjelasan dimulai dengan sejarah PT. Puri Loka yang mulai berdiri tahun 1992 dan diselingi dengan pemutaran video RCI dari proyektor. Ternyata mereka menawarkan keanggotaan Club Bali, yaitu keanggotaan klub liburan berupa akomodasi hotel berbintang, resort dan cottage yang mereka miliki ditambah dengan berbagai tempat afiliasi yang tersebar di Indonesia dan dunia dengan berafiliasi ke RCI. Konsep yang dijual menurut saya menarik karena bisa mendapatkan akomodasi dengan lebih mudah, biaya akomodasi berdasarkan point dan beberapa keuntungan yang bisa didapat seolah-olah kita adalah pemilik tempat liburan tersebut.

Keuntungan menjadi member menurut mereka antara lain bisa menghadiahkan, menyewakan, menjual bahkan mewariskan point yang mereka miliki. Keanggotaan yang dijual adalah selama 20 tahun dengan point per tahunnya adalah 2.400 point sehingga point total yang ditawarkan adalah 48.000 point. Setiap tempat punya perhitungan point yang berbeda-beda (mungkin karena harga kamar dan fasilitas juga berbeda-beda).

Sayangnya saya dan istri bukanlah tipe orang yang senang berlibur dengan cara seperti itu. Prioritas liburan istimewa masih bukan merupakan prioritas yang tinggi. Disamping jatah libur yang sedikit selain hari Sabtu dan Minggu, kami berdua juga agak sulit untuk menyatukan jadwal cuti. Selain itu, mengisi liburan tidak melulu harus dengan cara jalan-jalan seperti itu. Menonton TV di rumah, bercanda dengan Naufal, atau hanya sekedar pergi ke tempat wisata sekitar Jakarta pun sudah cukup. Kalaupun ingin berlibur dan menginap di tempat yang jauh, kami tidak memaksakan diri harus menyewa kamar di hotel berbintang, yang sederhana pun sudah cukup asalkan tempatnya bersih dan nyaman. Sehingga kami merasa bahwa tawaran yang diajukan sepertinya terlalu mewah dan sangat berlebih untuk kami.

Setelah melihat penawaran harganya, terus terang kami semakin tidak berminat. Kami lebih memilih berhemat dan menabung untuk biaya pendidikan Naufal dan adik-adiknya (amiiinnn) kelak, biaya penyelesaian studi S2 istri saya dan juga biaya pendidikan S2 saya. Dan akhirnya kami putuskan untuk menolak tawaran tersebut.

Pada akhirnya kami tetap diberikan voucher untuk menginap gratis tersebut. Pada saat ditanyakan lokasi hotel yang akan diambil, kami tidak bisa menjawab karena kami memang sebenarnya tidak ada rencana untuk berlibur istimewa dalam bulan-bulan ini.

Saya juga meminta maaf dalam hati karena ternyata mereka fair, tidak menipu dan memang menawarkan sesuatu yang legal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar